SI KAKEK PENJUAL BALON

Jdug, srekk… jdug, srekk… jdug, srekk… Pagi-pagi sekali. Suara seorang lelaki tua dengan kaki tak sempurna berjalan tertatih-tatih terseok-seok meniti jalanan menuju pasar, tempatnya mencari sesuap nasi. Aspal keras itu sungguh tak bersahabat dengannya, walaupun si kakek telah bertahun-tahun berusaha mengakrabinya. Begitu keras untuk kakinya yang harus selalu diseretnya jika ia berjalan. Kini, kaki itu pun sudah tidak sekokoh dulu. Meskipun sudah sejak dulu kaki itu tidak seperti kaki-kaki yang dipunyai orang-orang normal. Dipakainya krek, sebuah tongkat dari logam untuk membantu menyangga tubuh agar bisa berdiri & berjalan dengan lebih baik.

Dengan tangan kirinya yang seperti orang polio, mengecil di ujung & menekuk, kakek memegang erat beberapa balon warna-warni untuk dijual. Kakek sudah meniupnya di rumah, jadi tinggal dijual saja balon-balon yang sudah jadi itu, walaupun tidak sebanyak dulu ketika masih seumur bapak-bapak belum kakek.

Dilayaninya setiap pembeli yang membawa anak kecil, dengan sabar. Ditariknya satu balon dari ikatan tali yang lain dengan gigitan giginya. Maklum, tangannya yang satu tidak bisa memegang. Dengan semangat & penuh keramahan, kakek memberikan balon itu kepada si cempluk, anak pembeli tadi. Si anak tersenyum. Begitu riang dibelikan balon oleh ibunya. Sementara aku meneteskan air mata kering, melihat sebuah perjuangan hidup si kakek yang luar biasa!

***

Mata agak melotot-lotot, seakan memandang ke atas tapi ke depan, mulut kadang menganga-nganga lebar, kepala agak miring ke kiri. Jalannya juga agak terseok-seok. Kulitnya terlihat kusam, kepanasan di bawah teriknya matahari siang itu. Ditawarkannya beberapa tumpuk kertas berisi berita yang disajikan oleh media-media lokal kepada para pengendara yang sedang dihentikan oleh si lampu merah. Sosok lelaki, yang “kurang dari 100%” itu dengan antusias menjajakan koran-koran jualannya.

Perasaanku seperti es batu yang terkena panas. Meleleh.

***

Di sudut kota yang lain, seorang bapak-bapak dengan lincahnya menggerakkan sepasang roda di kursinya. Mengenakan topi untuk melindunginya dari panas. Menyapa para pengendara di sebuah perempatan. Bukan untuk meminta-minta belas kasihan orang, tapi dia menawarkan koran.

Lagi, sentuhan buat sebongkah daging dalam dada.

***

Duduk, diam, tanpa suara. Seorang nenek yang telah berubah warna rambutnya menjadi putih, kulit keriput, mata tertunduk bukan ngantuk, tapi karena daya energinya yang sudah sangat berkurang dikarenakan termakan usia. Berada di atas trotoar, berusaha pula menyapa para pengendara yang lalu-lalang menyusuri jalan itu, tapi tak bisa. Suaranya terlalu lemah untuk melakukannya. Tak pula untuk meminta-minta. Si nenek tua ini menyanding beberapa ikat sapu lidi & sapu jerami untuk dijualnya. Barangkali dalam pikirannya, cucuku harus bisa sekolah & makan.

Cukup… Cukup! Cukup dada ini dibelai kisah haru, dihantam untuk banyak bersyukur, & digedor agar termotivasi.

“Nek, berapa harga satu sapu ini?”

“Sepluluh ribu”

“Berapa nek???” tanyaku lagi, karna suaranya yang nyaris tak terdengar.

“Sepuluh ribu”

“Aku beli satu ya, Nek?”

“Ya” jawabnya dengan lirih

“Ini ya uangnya, Nek.” Kuberikan selembar kertas berwarna biru bergambar salah satu pahlawan yang mengenakan peci. “Kembaliannya ambil saja, Nek.”

“Terimakasih.” Kudengar suara tipis itu menahan haru sambil buru-buru meninggalkan tempat itu agar tidak diambilkan kembalian.

***

Bersyukur, bersyukur, dan bersyukurlah kita. Saya mengajak sahabat semua, yuk kita peduli. Plus memotivasi diri, meneladani semangat perjuangan beberapa “tokoh” pejuang ini. Dan semoga kita diberi keberuntungan yang lebih oleh-Nya, sehingga bisa berbagi kepada mereka. Mulianya bershadaqah. Begitu indahnya berbagi kasih.

 

Leave a comment

Filed under Ruang Dunia Lain

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s