“ SARAPAN BERSAMA ASMA NADIA ”

Tentang Istri yang Sensi Tapi Suaminya Nggak Sensi

Cuit cuit cuit cuit… merdu terdengar suara burung milik tetangga itu bernyanyi.

Kutuju dapur, ambil piring, menciduk nasi dan sayur. Kubawa menuju ruang tengah, duduk lesehan. Bismillaahirrahmaanirrahiim, sesendok nasi menuju mulut sambil kupersilakan Asma bercerita. Tentang istri yang sensi tapi suaminya nggak sensi. Hahaaa… Tema yang menarik. Bikin penasaran aja. Yah, meski aku belum nikah, aku antusias ingin mengikutinya, buat siap-siap gitu…🙂

Mereka berdua di halaman. Ada sinar bulan, ada bintang-bintang di langit. Romantis.

Ryan bercerita banyak. Tentang situasi kantor,tentang tren baru di kalangan teman-temannya. Indah juga.

Mereka bertatapan. Mesra. Lalu sedikit bernostalgia. Tertawa.

Semuanya indah. Juga harapan tentang si kecil, dan doa yang sepertinya harus lebih sering diucapkan agar Allah berkenan.

Perfect.

Ryan menyentuh halus perutnya, membelainya seolah jabang bayi sudah hadir di sana (lucu kali ya kalau udah ada ade-nya, Sayang).

Indah mengangguk. Bukan cuma suaminya yang mengharapkan itu. Dia sendiri rindu melihat pasangan lain yang sudah punya momongan.

Betul-betul sempurna. Momen berdua yang indah.

Sampai kemudian komentar Ryan melompat.

“In, tapi kok perutnya udah gendut? Gimana nanti kalau hamil?”

***

Komentar Ryan semalam sungguh membuat ILFIL. Asli, hilang feeling.

Itu sebabnya, ketika pagi mereka makan bersama. Indah tidak menyentuh apa-apa. Hanya air putih. Itu pun terpaksa, karena Indah tahu sekali dia paling tidak kuat menahan haus. Kalau adu lapar, bolehlah dicoba.

“Enggak makan, In? Nasi goreng?”

Indah menggeleng.

“Roti?”

Menggeleng lagi.

“Mau dibeliin bubur ayam?”

Indah menggeleng. Kali ini lebih lemah. Soalnya bayangan bubur ayam pansa-panas, dengan irisan cakwe dan ayam goreng, lengkap dengan taburan kacang kedelai dan kerupuk merah, membuatnya menahan liur.

Tapi tidak. Ia tidak boleh tergoda.

“Enggak pengen apa-apa?”

Dengan memberikan jawaban itu Indah ingin suaminya akan membujuk dan terus membujuk. Atau memberikan alternatif makanan lain. Mengajakanya makan di luar mungkin? Ini hari Ahad, kalau mau Ryan bisa membujuknya seharian penuh. Setidaknya dari jawaban terakhirnya, indah sudah memberikan sinyal kalau dia merajuk.

Anehnya, Ryan dengan cepat menyerah dan hanya mengucapkan kalimat pendek,

“Aku mau mancing dulu sama Eko. Makan ya, biar enggak sakit!”

Hah? Indah benar-benar tidak menyangka Ryan akan seenteng itu pergi. Ia pun mencatat dalam hati: hal kedua yang peling menyebalkan ketika ngambek adalah, ditinggal sendirian!

Konsep ngambek itu kan sama seperti demo, protes, unjuk rasa, unjuk gigi. Pokoknya sesuatu yang harus diperhatikan oleh orang lain. Kalau cuma sendiri begini, bagaimana mau efektif? Hhh….

…dst…

Setelah menyelesaikan ceritanya, Asma memberi penjelasan sambil menasehati.

Konon, ngambek itu senjatanya perempuan.

Kalau ada apa-apa yang tidak berkenan, pasang wajah sundek, memelas dan tambahkan genangan air mata… hehehe.

Tapi rumus-rumus ini ternyata tidak selalu berlaku. Contohnya, saya punya teman yang sensi banget, namun memiliki suami yang super cuek dan enggak sensi. Kalau ngomong atau mengkritik istri, sepertinya enggak pakai mikir dan bikin tersinggung. Terus, saking cueknya juga sering lupa memberikan apresiasi terhadap jerih payah istri. Dari mereka saya jadi dapat ide untuk menulis cerpen Ngambek! ini.

Lagi-lagi memang dibutuhkan saling pengertian, juga sikap terbuka. Enggak ada cara lain, kecuali mau diam saja dan memperpanjang usia sabar yang kadang bikin makan hati juga, padahal belum tentu pasangan keberatan kalau kita bersikap terbuka,

Ini lho yang bikin pegel.

 Maksud bercanda waktu itu, apa ya Mas?

Aku salah enggak kalau merasa begini…

Atau dengan terus terang mengungkapkan perasaan atas sikapnya.

“Aku sedih lo waktu mas bilang begini…”

Tentu saja perlu dicari suasana yang enak dan cara penyampaian yang enggak dimulai dengan intonasi yang bisa ditebak bakal bikin suami nyolot.

Opening ‘saya sedih lo…’ lebih baik ketimbang membuka diskusi dengan menyalahkan suami,

“mikir dong lain kali kalau ngomong. Aku kan juga punya perasaan!”

“Sensi kenapa sih dengan perasaan istri!”

“Makanya, biasa bercanda ama gorilla sih, jadi enggak peka!”

Tiga contoh kalimat di atas bakalan terdengar enggak enak banget bagi suami. Dalam hal ini sebagai pasangan kita harus punya imajinasi dan kemampuan empati.

Dia akan marah enggak ya kalau saya bilang begini…

Jawaban dari pertanyaan di atas sebenarnya bisa kita temukan jika kalimat yang sama kita tujukan pada diri sendiri,

Kalau saya ditegur dengan cara begini, saya akan…

Hingga pertengkaran yang tidak perlu bisa dicegah.

Di sisi lain, jika sebagai istri kita terlalu sensi, juga rugi sendiri. Jadi harus punya filter…kapan harus (WAJIB) sensi, dan kapan enggak perlu sensi. Sebab sikap yang terlalu sensi jika diperahankan bisa capek sendiri. Perkara yang disensiin seberapa penting, ini juga harus dikaji lagi.

Lalu kapankah sensitivitas ini justru membawa ke surga?

Jika kita peka, kapan suami membutuhkan, kapan dia harus didengarkan, apa yang membuatnya lebih bahagia.

Tak terasa sepiring nasi dan sayur telah habis tersantap. Namun penjelasan Asma belum selesai. Tetap kuikuti kata demi kata, kalimat demi kalimat Asma. Di penghujung, Asma menitip pesan.

Pun sensi terhadap keinginan anak-anak, harapan mereka terhadap ibu dan ayah, cara menegur yang tidak mereka sukai, bagaimana menyampaikan nasehat yang tidak menyinggung. Sebab anak-anak juga amanah-Nya yang harus dijaga agar hati mereka tidak pecah, oleh kalimat atau sikap ayah dan bunda.

Masih ingin meneruskan cerita-cerita yang lainnya. Tapi….

Maap, segini dulu ya, Asma. Aku mau nyuci baju dulu. Kututup lembar-lembar cerita Asma. Satu cerita lagi selesai, bagian dari Sakinah Bersamamu karya Asma Nadia. Kuletakkan kembali buku itu di atas kasur di depan TV 14 inch.

🙂

Leave a comment

Filed under Ruang INSPIRASI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s