“Ru, mau mie nggak?” ibu menawari

ibu menyayangi anak

 

Tak seperti biasanya, hari itu saya sarapan sudah agak siang karena sedang asyik bekerja dengan komputer sejak pagi. Karena sudah agak lama duduk di depan komputer dan merasa belum sarapan, saya kemudian menengok jam dinding yang ada di dekat situ (kenapa ya mesti kudu nengok jam dinding, padahal di komputer sendiri ‘kan juga sudah ada jam juga?).

Itu sekitar jam setengah sepuluh. Saya langsung menuju dapur dan bertanya kepada yang sedang berada di rumah,”Siapa yang belum makan?” “Sudah,” jawab ayah saya. Tidak ada suara lain selain ayah saya. Adik sudah pergi sejak tadi pagi. Ibu mungkin juga sedang keluar rumah dan sudah sarapan pastinya wong sudah jam segini, batin saya.

Saya langsung saja menghabiskan nasi yang sudah tinggal sedikit yang ada di dapur. Alhamdulillaah, kenyang sudah…

Tapi…

Tiba-tiba ibu datang menuju dapur, entah dari mana soalnya tadi seperti tidak ada suaranya, langsung mengambil sebungkus mie instan dari almari dan mulai memasaknya. “Loh, ibuk ternyata belum sarapan to?” kata saya. “Belum. Nggak apa-apa, habiskan saja nasinya,”sahut ibu. Padahal nasi emang sudah habis.

Tidak cukup begitu, saat saya menuju kamar mandi (wah ketahuan deh kebiasaan mandinya kalo udah sarapan, hehe…), ibu masih saja bisa berkata,”Ru, mau mie nggak?”

(T_T) hiks…

Adakah yang pernah mengalami hal seperti itu? Minimal serupa, saya yakin pasti ada. Tidak sekedar ada, tapi banyak. Harus nulis apa lagi yach… Yah, begitulah ibu. Ibu saya, ibu Anda, ibu-ibu kita semua. Ibu telah memberi pelajaran kasih sayang secara nyata. Benar-benar nyata. Tidak sekedar pelajaran di sekolahan yang pada umumnya hanya menjejali teori. Jadi kepada temen-temen yang masih sekolah, pilihlah sekolah yang banyak kegiatan prakteknya ya… terutama untuk praktek-praktek keagamaan, pendidikan moral, dan sosial. Wah, jadi teringat sekolah saya dulu deh, SMP Muhammadiyah Jogja, yang kini mengusung slogan Anggun dalam moral, unggul dalam intelektual. Halah… malah promosi… Ya biarin aja, wong emang sekolah bermutu bener kok yeee…

Oke, kembali ke jalan yang benar…

Pembaca sekalian, tak perlu kiranya saya menuliskan berbagai pelajaran apa saja yang perlu dipetik. Karena saya yakin Anda juga punya pengalaman yang sama, mirip, atau malah lebih dahsyat dari itu tentang bagaimana ibu menyayangi kita. Ilmu parenting, keluarga, cinta, inspirasi, motivasi, moral, dan apalah itu… kita dapatkan dari sini. Teman-teman juga boleh share juga kok di sini, bebas, silakan tuliskan saja di bagian komentar, atau mau di-share di blog Anda? Silakan saja…

Allaahummaghfir lii wa liwaalidayya warhamhumaa kamaa rabbayaa nii shaghiiraa. Ya Allah, ampunilah aku dan kedua ibu bapakku. Dan kasih sayangilah mereka sebagaimana mereka telah mengasihsayangiku sewaktu kecil”

Salam sayang juga dari saya,

Fakhruddin Hadi, sang anak.

 

1 Comment

Filed under Ruang Dunia Lain

One response to ““Ru, mau mie nggak?” ibu menawari

  1. ari

    sungguh luar biasa jasa ibu bagi kita,, subhanallah smg Allah senantiasa memberikan rahmat&rahim-Nya kepada ibu2 kita, juga senantiasa diberikan kesehatan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s